Ada banyak orang yang terus bepergian dari satu guru ke guru yang lain, dari satu filsafat ke filsafat lain, dari satu ajaran/aliran ke ajaran lain, dan orang-orang ini berpikir mereka mengumpulkan banyak pengetahuan. Mereka mengumpulkan hanya sampah. Pengetahuan tidak bisa dicapai dengan cara ini. Batu yang bergulir tidak mengumpulkan lumut (Peribahasa yang berarti orang yang tidak menetap di satu tempat sangat jarang bisa berkembang). Seorang pencari spiritual harus berada dalam hubungan cinta yang intim/mendalam dengan seorang Master. Ini adalah fenomena yang halus, ini membutuhkan waktu. Engkau tidak bisa hanya pergi dari satu pintu ke pintu yang lain; engkau akan tetap menjadi seorang pengemis. Ya, engkau bisa mengumpulkan beberapa informasi, tetapi semua informasi di dalam dirimu akan menjadi kacau karena masing-masing ajaran/aliran memiliki metode-metodenya sendiri, dan metode-metode tersebut sangat tepat di ajaran itu, di lingkungan tertentu. Mereka telah dirancang oleh para Master; ada pola yang harus diikuti. Metode-metode tersebut tidak bisa dicampur dengan metode-metode lain.

Jika seseorang pergi dari satu guru ke guru yang lain, berpikir bahwa dengan cara ini dia akan mengumpulkan banyak pengetahuan, dia akan menjadi gila, karena semua metode-metode itu benar dalam konteks mereka sendiri, tetapi tanpa konteks mereka berbahaya. Dan konteksnya ada bersama Masternya karena hanya sang Master yang sepenuhnya sadar akan apa yang sedang dikerjakan.

Beberapa orang datang ke sini, dan mereka akan menonton dan mereka akan mencoba mengumpulkan beberapa bagian, dan kemudian mereka berpikir mereka akan mencobanya sendiri. Mereka melakukan sesuatu yang sangat berbahaya. Aku ingin mereka untuk menjadi waspada, berhati-hatilah: metode-metode ini bisa berbahaya tanpa konteks. Dan konteksnya ada dalam diriku, dan konteksnya ada di sini dalam situasi total yang sedang dibuat. Engkau harus berada di sini untuk mengetahui sesuatu yang bisa bermanfaat. Dan engkau harus sangat, sangat sabar, karena hal-hal ini tidak dapat diberikan kepadamu seperti barang, dan hal-hal ini membutuhkan waktu.

Cinta yang ada di antara seorang Master dan seorang murid tidak seperti bunga musiman. Cinta itu membutuhkan jangka waktu keintiman yang panjang dan lama. Murid harus berhubungan langsung dengan Masternya selama mungkin; hanya kemudian perlahan-lahan sesuatu muncul di dalam kesadarannya; perlahan-lahan secercah sinar mulai menembusnya.

SEORANG PRIA DATANG KEPADA BAHAUDIN NAQSHBAND, DAN BERKATA, “AKU TELAH BEPERGIAN DARI SATU GURU KE GURU YANG LAIN …”

Nah, pria ini seperti hampir semua yang-disebut pencari. “Aku sudah bepergian,” katanya kepada Bahaudin Naqshband, “dari satu guru ke guru yang lain, DAN AKU TELAH MEMPELAJARI BANYAK JALAN.” Sekarang ini bodoh, ini benar-benar bodoh. Engkau tidak perlu mempelajari banyak jalan, satu jalan sudah cukup untuk diikuti. Mengapa membuang-buang waktu untuk mempelajari banyak jalan? Ikutilah, jalanilah. Jika engkau ingin pergi ke Himalaya, engkau tidak mempelajari semua jenis jalannya, engkau cukup memilih satu dan engkau mengikutinya. Mengapa membuang waktu? Hidup ini sangat singkat. Tidak ada seorang pun yang tahu, hari esok mungkin menjadi akhirnya. Orang tidak bisa terus membuang-buang waktu dan energi untuk hal-hal yang tidak perlu.

Jika engkau bertemu dengan seorang Master dan engkau merasa, “Ya, inilah rumahku,” kemudian tenggelamlah. Kemudian lupakanlah bahwa metode lainnya ada, bahwa jalan lainnya ada. Kemudian biarkanlah cinta menguasaimu. Hanya dengan demikian, perlahan-lahan, dengan sabar menunggu, sesuatu mulai tumbuh.

Itu seperti seorang anak yang tumbuh di dalam rahim. Jika ibunya tidak siap menunggu selama sembilan bulan, anak itu tidak akan tumbuh. Dan anak yang tumbuh di antara seorang Master dan muridnya itu dapat memakan waktu lebih dari sembilan bulan – sembilan tahun, sembilan puluh tahun? Orang tidak pernah tahu karena dengan setiap murid itu akan berbeda. Itu tergantung pada kecepatan dari muridnya.

Tetapi pria ini adalah perwakilan dari yang-disebut pencari. Mereka pergi dari satu guru ke yang lain, mempelajari semua jalan.

“… SEMUA YANG TELAH MEMBERIKU MANFAAT YANG SANGAT BESAR,” katanya, “dan BANYAK KEUNTUNGAN DARI SEGALA JENIS.” Itu semua adalah omong kosong; itu hanya penghiburan. Engkau sedang mengumpulkan sampah. Engkau mengemis, dan beberapa potong dari sini dan beberapa potong dari sana … hanya sampah. Engkau belum pernah menjadi tamu yang diundang ke dalam dunia Master mana pun. Dan seseorang harus membuat dirinya layak, untuk menjadi tamu yang diundang ke meja seorang Master. Ia harus membayar untuk itu; itu tidak murah.

Orang-orang datang ke sini juga. Mereka akan melakukan satu grup (meditasi), dan mereka selesai dan mereka mengatakan mereka telah belajar dan sekarang mereka akan pergi ke tempat lain. Selama dua, tiga hari mereka telah melakukan meditasi, dan mereka berpikir bahwa mereka telah mengetahui apa itu meditasi. Sekarang mereka akan pergi ke tempat lain untuk mempelajari beberapa metode lain. Ini adalah orang-orang yang bodoh.

Dan orang-orang ini menciptakan penyakit syaraf untuk diri mereka sendiri dan untuk orang lain juga karena ketika mereka mulai mengumpulkan terlalu banyak, mereka mulai menasihati orang lain. Cepat atau lambat orang-orang semacam ini menjadi guru. Di dunia ini sudah terlalu banyak kekacauan terjadi karena guru-guru palsu. Dan siapakah seorang guru palsu? Guru palsu adalah orang yang berpindah dari satu guru ke guru lainnya, tidak pernah tinggal di mana pun, tidak pernah berakar ke jalan mana pun, tetapi telah mengumpulkan banyak informasi, telah menjadi berpengetahuan. Sekarang dia bisa mengajar. Semua yang dia ajarkan adalah omong kosong, tetapi dia dapat menikmati dalam mengajar; itu sangat memuaskan ego. Engkau adalah yang tahu, dan yang lainnya tidak tahu apa-apa. Hal ini sangat memuaskan.

Waspadalah terhadap perangkap-perangkap ini; mereka ada di jalur setiap pencari. Dan orang dapat selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa banyak yang telah menjadi manfaatnya, banyak keuntungannya. Ego manusia itu sedemikian rupa sehingga ia tidak dapat mengakui bahwa ia selama ini bodoh.

Hanya beberapa hari sebelumnya, seorang pria menjadi sannya (murid). Dia adalah seorang Jaina, telah mengikuti biksu Jaina selama bertahun-tahun. Dia adalah seorang lelaki tua. Setelah menjadi sannya, dia berkata, “Haruskah aku memulai meditasimu, atau bisakah aku melanjutkan meditasi yang telah aku lakukan setidaknya selama tiga puluh tahun?” Aku melihat ke dalam pria itu; di sana bahkan tidak ada jejak meditasi. Aku bertanya kepadanya, “Bagaimanakah meditasi-meditasi itu? Apakah mereka telah membantu, apakah engkau telah tumbuh melalui mereka? Apakah engkau menjadi hening, bahagia, puas? Apakah engkau terpenuhi? Apakah beberapa cahaya telah menembusmu melalui meditasi-meditasi itu? Apakah engkau telah menyadari apa itu?” Dia berkata, “Ya, mereka sangat bermanfaat, aku telah belajar banyak; aku telah tumbuh melalui mereka.”

Jadi aku berkata, “Maka tidak apa-apa, engkau melanjutkan meditasi lamamu. Tidak perlu (meditasiku). Tapi mengapa engkau menjadi sannya?” Dia berkata, “Aku pikir mungkin ada sesuatu yang lebih, atau mungkin ada sesuatu yang terlewatkan – meskipun aku telah melakukannya sendiri dengan sangat baik – tetapi mungkin masih ada sesuatu yang lebih yang bisa dikumpulkan.”

Aku berkata, “Engkau lanjutkanlah meditasi lamamu. Bertanyalah hanya ketika engkau melihat bahwa mereka belum memberimu apa pun. Aku tidak akan memberitahumu untuk melakukan meditasiku sebelum itu.”

Dan di hari berikutnya dia menulis surat: “Aku minta maaf. Aku tidak bisa tidur sepanjang malam. Betapa bodohnya aku? Tidak ada sesuatu pun yang telah terjadi. Dan bagaimana aku telah mengatakan di depanmu, ‘Ya, banyak yang terjadi’?

Aku berpikir, “tulisnya,” bahwa bahkan jika aku mengatakan bahwa banyak hal yang telah terjadi, engkau masih akan mengatakan kepadaku untuk melakukan meditasiku, tetapi engkau hanya berkata oke, maka lanjutkanlah. Lalu aku merenungkannya. Aku merenung kembali, melihat ke masa laluku, dan tiga puluh tahun itu adalah pemborosan. Sungguh, itulah mengapa aku datang kepadamu untuk menjadi sannya, tetapi egoku tidak akan mengizinkan aku untuk mengatakan bahwa aku telah bodoh terus menerus selama tiga puluh tahun, melakukan hal-hal yang tidak perlu, hal-hal yang tidak berarti. ”

Hal ini telah terjadi pada banyak orang. Setiap kali orang yang telah melakukan sesuatu di masa lalu mereka datang, mereka selalu berpura-pura bahwa banyak hal telah terjadi. Sangat sulit bagi ego untuk mengaku.

OSHO ~ The Secret, Chpt 1