Pertanyaan:
Aku mendengar engkau mengatakan bahwa pusat Kebuddhaan kita berada di titik Hara di dalam tubuh. Apakah ada juga energi buddha yang tertidur di dalam Hati kita dan juga di Mata Ketiga?
Apakah kita semua memiliki potensi mengingat yang sama, masing-masing dengan ekspresi kreativitasnya yang unik?
Tolong beri komentar.

Jawaban OSHO:

Pusat hara adalah sumber dari semua energimu. Ini bisa tumbuh seperti pohon tumbuh dari akar ke cabang yang berbeda-beda.

Menurut perhitungan Patanjali yang berbeda, energi bisa dibagi ke dalam tujuh pusat/chakra, namun sumber aslinya tetap adalah hara. Dari hara energi itu bisa naik.

Pusat/chakra ketujuh ada di kepala, dan pusat/chakra keenam adalah apa yang engkau sebut mata ketiga. Pusat/chakra kelima ada di tenggorokan kita, dan pusat/chakra keempat ada persis di tengahnya: jantung. Di bawah jantung ada tiga pusat, di atas jantung ada tiga pusat. Tapi semua tujuh pusat/chakra tumbuh seperti pohon dari sumber aslinya yaitu hara. Karena itulah, di Jepang, bunuh diri disebut hara-kiri. Orang tidak memotong leher mereka, mereka tidak memotong kepala mereka. Mereka hanya menusukkan pisau kecil ke pusat hara – persis dua inci di bawah pusar – dan orang tersebut meninggal. Dan engkau sama sekali tidak tahu bahwa seseorang telah melakukan bunuh diri. Hanya energi yang dilepaskan dari tubuh, sumbernya terbuka.

Aku mencoba untuk membawamu ke sumber yang paling asli. Dari sana, terserah dirimu untuk membawa energimu ke pusat yang engkau inginkan.

Antara pusat yang pertama, hara, dan pusat/chakra ketujuh di kepala, energi bisa bergerak seperti energi yang bergerak ke cabang pohon yang berbeda – dari akar hingga bunga yang paling atas. Hara adalah sumbernya. Saat mekar, tiba-tiba mencapai ke pusat/chakra ketujuh, menusuk/melalui jantung, tenggorokan, dan di pusat/chakra ketujuh itu berbunga menjadi bunga teratai. Manusia juga merupakan pohon berbunga.

Ini adalah cara yang berbeda untuk melihat sesuatu. Yoga Patanjali adalah salah satu cara; Zen adalah pendekatan yang sama sekali berbeda. Bagiku, Zen nampaknya lebih ilmiah, sementara Patanjali nampaknya lebih intelektual dan filosofis. Zen dimulai dari sumbernya.

Buddha tidak berada di tempat lain selain di hara; Dia tidak berada di dalam hati. Energi bisa dibawa ke hati, maka ungkapan/ekspresi nya akan menjadi cinta. Energi bisa dibawa ke mata ketiga, maka engkau akan dapat melihat hal-hal yang tidak biasa terlihat – aura manusia, aura benda, energi sinar-X tertentu yang masuk lebih dalam ke benda-benda. Jika energi yang sama bergerak ke pusat/chakra ketujuh, menurut Patanjali, samadhi tercapai – engkau menjadi tercerahkan.

Tapi ini adalah perhitungan yang berbeda. Alih-alih berbicara tentang samadhi, aku lebih suka mendorongmu untuk masuk ke sumber energi dari mana segala sesuatu akan terjadi. Aku tidak suka membicarakan banyak bunga, karena omongan itu akan tetap konseptual. Pendekatanku lebih pragmatis.

Aku ingin engkau mengalami energimu yang tertidur. Dan saat engkau sampai di sana, itu terbangun. Energi itu tidur hanya jika engkau tidak berada di sana. Jika kesadaranmu sampai ke sumbernya, ia terbangun, dan saat terjaga itu adalah Kebuddhaan. Pada saat terjaga untuk pertama kalinya engkau menjadi bagian dari semesta: tidak ada ego, tidak ada diri, sebuah ketiadaan murni.

Orang takut dengan kata ‘ketiadaan’. Dalam pertanyaan kedua/berikutnya ketakutan itu akan dijelaskan.

~ Osho
From The Zen Manifesto: Freedom from Oneself, Chapter Seven