Banyak pintu terbuka – tetapi pintu pertama selalu tentang penerimaan. Jika engkau mengutuk dirimu sendiri, segala sesuatunya tetap tertutup karena engkau bahkan belum membuka pintu pertamanya.

Setiap anak dibesarkan dalam pengutukan. Setiap anak diberitahu bahwa ia tidak diterima sebagaimana adanya. Jika engkau melakukan hal-hal tertentu yang diinginkan orang tua untuk engkau lakukan, engkau baik. Jika engkau melawan mereka, engkau jahat. Jadi tindakan-tindakanmu memutuskan apakah engkau akan dicintai atau tidak, bukan keberadaanmu.

Seorang anak perlahan-lahan mulai belajar bahwa ‘Aku tidak berharga dalam diriku sendiri. Aku tidak memiliki nilai hakiki. Jika aku melakukan hal-hal tertentu yang menurut orang-orang tua itu baik, maka aku diterima. Aku anak laki-laki yang baik atau anak perempuan yang baik. Jika aku tidak melakukan itu dan mengikuti naluriku sendiri dan itu bertentangan dengan orang-orang tua, aku jahat, dan aku tidak akan menerima cinta apa pun dari mereka.’ Dan di dunia yang sangat berbahaya, seorang anak kecil itu begitu tak berdaya, begitu benar-benar tak berdaya, sehingga ia harus berkompromi. Dia merasa sakit hati karena dia tidak diterima sebagaimana adanya.

Dia merasa ‘Tuntutan-tuntutan besar dibuat padaku, yang semuanya bodoh dan orang-orang tua terus mengatakan hal-hal yang sangat aneh. Mereka berkata “Itu karena kami mencintaimu, itulah mengapa kami ingin melakukan ini. Karena kami mencintaimu, itulah mengapa kami ingin memukulmu. Karena kami mencintaimu, itulah mengapa kami mencoba mendisiplinkanmu. Ini semua demi dirimu sendiri. Ini semua untuk kebaikanmu sendiri. “‘

Dan anak itu tidak bisa mengatakan apa pun. Dia tidak bisa memberontak dan dia tidak bisa melawan karena dia tidak berdaya.

Seluruh kelangsungan hidupnya dipertaruhkan. Untuk kelangsungan hidupnya, ia menerima kompromi, menjadi diplomatis, mencoba melakukan hal-hal yang dikatakan orang lain untuk dia lakukan; setidaknya, berpura-pura untuk melakukannya. Dia berusaha untuk tidak melakukan hal-hal yang ingin dia lakukan, atau setidaknya mencoba menyembunyikan bahwa dia telah melakukannya.

Pembagian yang besar muncul. Maka engkau selalu mengutuk; sesuatu atau yang lain itu selalu salah.

Inilah suara orang tuamu, masyarakat, para pendidik. Suara-suara mereka sedang bekerja di dalam dirimu dan mereka sedang terus-menerus mengutukmu, membuatmu merasa bersalah. Mereka telah melumpuhkan seluruh umat manusia.

Jika engkau mulai menerima dirimu sendiri, engkau telah mengambil langkah pertama untuk melawan masyarakat yang gila ini. Engkau telah mengambil langkah pertama untuk menjadi manusia baru. Engkau telah meletakkan batu pertama untuk jenis kemanusiaan yang berbeda, yang akan menerima, penuh kasih. Semua orang seharusnya dihargai demi dirinya sendiri. Nilainya seharusnya hakiki, bukan atas apa yang dia lakukan. Keberadaannya sendiri sangatlah berharga.

Terimalah dirimu dan jatuhkanlah suara-suara orang tua itu perlahan-lahan. Semakin engkau menyingkirkannya, engkau akan merasa semakin bebas dan hidup … lebih spontan.

OSHO ~ Beloved of my Heart, Chpt 7