Prem Sukavi, TUHAN bukan seseorang/satu individu. Hal itu adalah salah satu kesalahpahaman terbesar, dan ia telah berlaku begitu lamanya sehingga ia telah menjadi hampir satu fakta. Bahkan jika satu kebohongan diulang terus-menerus selama berabad-abad pasti tampaknya seolah-olah itu adalah kebenaran.

Tuhan adalah kehadiran, bukan seseorang. Oleh karenanya semua ibadah adalah kebodohan belaka. Ke-penuh-doa-an diperlukan, bukan doa. Tidak ada seorang pun untuk didoakan; tidak ada kemungkinan dialog mana pun antara engkau dan Tuhan. Dialog itu mungkin hanya antara dua orang, dan Tuhan bukanlah seseorang tetapi satu kehadiran – seperti keindahan, seperti sukacita.

Tuhan hanya berarti ketuhanan. Karena fakta inilah Buddha menolak keberadaan Tuhan.

Dia ingin menekankan bahwa Tuhan adalah satu sifat, satu pengalaman – seperti cinta. Engkau tidak bisa berbicara kepada cinta, engkau bisa menjalaninya. Engkau tidak perlu menciptakan kuil cinta, engkau tidak perlu membuat patung cinta, dan membungkuk ke patung-patung itu akan menjadi omong kosong belaka. Dan itulah yang telah terjadi di gereja-gereja, di kuil-kuil, di masjid-masjid.

Manusia telah hidup dengan anggapan ini bahwa Tuhan adalah seseorang, dan kemudian dua malapetaka telah terjadi melaluinya. Salah satunya adalah apa yang disebut orang religius, yang menganggap Tuhan berada di suatu tempat di atas langit dan engkau harus memujinya untuk membujuknya. Untuk memberikan bantuan kepadamu, untuk membantumu memenuhi keinginanmu, untuk membuat ambisi-ambisimu berhasil, untuk memberimu kekayaan dari dunia ini DAN dari dunia akhirat. Dan ini adalah pemborosan waktu dan energi belaka.

Dan di kutub yang berlawanan orang-orang yang melihat kebodohan dari semua itu menjadi atheis; mereka mulai mengingkari keberadaan Tuhan. Mereka benar dalam satu hal, tetapi mereka juga salah. Mereka mulai menyangkal tidak hanya kepribadian dari Tuhan, mereka mulai menyangkal bahkan pengalaman akan Tuhan.

Orang teis (yang percaya Tuhan sebagai individu) salah, orang ateis (yang tidak percaya Tuhan) salah, dan manusia membutuhkan satu pandangan baru sehingga dia bisa dibebaskan dari kedua penjara itu.

Tuhan adalah pengalaman terakhir dari keheningan, dari keindahan, dari kebahagiaan, suatu keadaan dari perayaan batin. Begitu engkau mulai melihat Tuhan sebagai ketuhanan, akan ada perubahan radikal dalam pendekatanmu. Maka doa tidak berlaku lagi; meditasi menjadi benar.

Martin Buber berkata doa adalah dialog; kemudian di antara engkau dan Tuhan ada hubungan “Aku-Engkau” – dualitasnya tetap ada. Buddha berada jauh lebih dekat dengan kebenaran: engkau hanya menjatuhkan semua ocehan dari pikiran, engkau menyelinap keluar dari pikiran seperti ular menyelinap keluar dari kulit lamanya. Engkau menjadi sangat hening. Tidak ada pertanyaan tentang dialog apa pun, tidak ada pertanyaan tentang monolog apa pun juga. Kata-kata telah lenyap dari kesadaranmu. Tidak ada keinginan untuk meminta pertolongan, tidak ada ambisi yang harus dipenuhi.

Orang berada sekarang dan di sini. Dalam ketenangan itu, dalam keteduhan itu, engkau menjadi sadar akan satu sifat bercahaya dari semesta. Lalu pepohonan dan gunung-gunung dan sungai-sungai dan orang-orang semuanya dikelilingi oleh aura yang halus. Mereka semua memancarkan kehidupan, dan itu adalah satu kehidupan dalam berbagai bentuk. Mekarnya satu semesta/ kehidupan dalam jutaan bentuk, dalam jutaan bunga.

Pengalaman INILAH Tuhan. Dan itu adalah hak lahir dari setiap orang, karena entah engkau mengetahuinya atau tidak, engkau sudah menjadi bagian darinya. Satu-satunya kemungkinan adalah engkau mungkin tidak mengenalinya atau engkau mungkin mengenalinya.

Perbedaan antara orang yang tercerahkan dan orang yang tidak tercerahkan itu bukan kualitasnya – keduanya benar-benar mirip. Hanya ada satu perbedaan kecil: bahwa orang yang tercerahkan itu sadar; dia mengenali tersebarnya keseluruhan, merasuknya keseluruhan, bergetar, berdenyut.

Dia mengenali detak jantung alam semesta. Dia menyadari bahwa alam semesta tidak mati, alam semesta itu hidup.
Kegairahan hidup ini adalah Tuhan!

Orang yang tidak tercerahkan itu tertidur, tertidur dan penuh dengan mimpi-mimpi. Mimpi-mimpi itu berfungsi sebagai penghalang; mereka tidak mengizinkannya untuk melihat kebenaran dari kenyataannya sendiri. Dan, tentu saja, ketika engkau bahkan tidak sadar akan kenyataanmu sendiri, bagaimana engkau bisa menjadi sadar akan kenyataan orang lain? Pengalaman pertama harus terjadi di dalam dirimu. Setelah engkau melihat cahaya di dalam dirimu, engkau akan dapat melihatnya di mana-mana.

Tuhan harus dibebaskan dari semua konsep tentang kepribadian (bahwa Tuhan itu satu pribadi/seseorang). Kepribadian adalah penjara. Tuhan harus dibebaskan dari bentuk tertentu mana pun; hanya kemudian dia bisa memiliki semua bentuknya. Dia harus dibebaskan dari nama tertentu apa pun, sehingga semua nama menjadi miliknya.

Kemudian seseorang HIDUP dalam doa – dia tidak berdoa, dia tidak pergi ke kuil, ke gereja.

Di mana pun ia duduk, ia penuh dengan doa, apa pun yang dilakukannya penuh dengan doa, dan dalam ke-penuh-doa-an itu ia menciptakan kuilnya. Dia selalu bergerak dengan kuilnya mengelilinginya. Di mana pun dia duduk, tempat itu menjadi suci, apa pun yang disentuhnya menjadi emas. Jika dia diam maka diamnya adalah emas; jika dia berbicara maka nyanyiannya adalah emas. Jika dia sendirian maka kesendiriannya adalah Ilahi; jika dia berhubungan maka hubungannya adalah Ilahi.

Hal yang mendasar, yang paling diperlukan adalah untuk menjadi sadar akan inti terdalammu sendiri, karena itulah rahasia seluruh semesta. Di situlah di mana Upanishads menjadi sangat penting.

Mereka tidak berbicara tentang Tuhan, mereka berbicara tentang ketuhanan. Mereka tidak peduli tentang doa. Seluruh penekanan mereka adalah pada meditasi.

Meditasi memiliki dua bagian: awal dan akhir. Awalnya disebut dhyana dan akhirnya disebut samadhi. Dhyana adalah benihnya, samadhi adalah mekarnya. Dhyana berarti menjadi sadar akan semua kerja dari pikiranmu, semua lapisan dari pikiranmu – ingatanmu, keinginanmu, pemikiranmu, mimpimu – menjadi sadar akan semua yang berlangsung di dalam dirimu.
Dhyana adalah kesadaran, dan samadhi adalah ketika kesadaran telah menjadi begitu dalam, begitu kuat, begitu total sehingga ia menjadi seperti api dan memusnahkan seluruh pikiran dan semua fungsinya. Ia memusnahkan pemikiran-pemikiran, keinginan-keinginan, ambisi-ambisi, harapan-harapan, mimpi-mimpi. Ia memusnahkan semua hal yang memenuhi pikiran.

Samadhi adalah keadaan ketika kesadaran ada di sana, tetapi tidak ada sesuatu pun yang harus disadari di dalam dirimu; penyaksi ada di sana, tetapi tidak ada sesuatu pun yang harus disaksikan.

Mulailah dengan dhyana, dengan meditasi, dan akhirilah dengan samadhi, dalam suka cita, dan engkau akan tahu apa itu Tuhan.
Hal ini bukan hipotesis/dugaan, ini adalah satu pengalaman. Engkau harus MENJALANINYA – itulah satu-satunya cara untuk mengetahuinya.

OSHO ~ I am That, Chpt 2