Osho, apakah ada perbedaan antara pendekatan dari Siwa dan Saraha terhadap Tantra?

Jawaban Osho:
Tidak juga, tidak pada dasarnya. Tapi sejauh itu menyangkut bentuknya, ya. Agama-agama berbeda hanya dalam bentuknya. Agama-agama berbeda hanya dalam metodologi mereka. Agama-agama berbeda sejauh itu menyangkut pintu menuju yang Ilahi, tetapi tidak pada dasarnya. Dan hanya ada dua perbedaan formal dasar: yaitu jalan pengabdian, doa, cinta; dan jalan meditasi, kesadaran. Dua perbedaan mendasar ini tetap ada.

Pendekatan Siwa adalah pendekatan pengabdian, doa, cinta. Pendekatan Saraha adalah pendekatan meditasi, kesadaran. Perbedaannya masih formal, karena ketika pencinta dan meditator sampai, mereka tiba di tujuan yang sama. Panah-panah mereka dilepaskan dari sudut yang berbeda, tetapi mereka mencapai target yang sama. Panah mereka dilepaskan dari busur yang berbeda, tetapi mereka mencapai target yang sama. Busur tidak penting pada akhirnya. Apa jenis busur yang engkau pilih tidak masalah jika targetnya tercapai. Dan inilah dua busurnya karena manusia pada dasarnya terbagi menjadi dua: berpikir dan merasakan. Entah engkau bisa mendekati kenyataan melalui pemikiran atau engkau bisa mendekati kenyataan melalui perasaan.

Pendekatan agama Buddha – pendekatan dari Buddha dan Saraha adalah melalui kecerdasan. Pada dasarnya melalui pikiranlah Saraha bergerak. Tentu saja, pikiran harus ditinggalkan, tetapi pikiranlah yang harus ditinggalkan. Perlahan-lahan, pikiran harus menghilang ke dalam meditasi tetapi pikiranlah yang harus menghilang, berpikirnya yang harus ditransformasikan/diubah. Dan keadaan tanpa-pikiran harus diciptakan. Tetapi ingat: ini adalah keadaan tanpa-pikiran, dan itu dapat diciptakan hanya dengan perlahan-lahan menjatuhkan pemikiran, perlahan-lahan. Jadi seluruh pekerjaannya terdiri dari bagian pemikiran.

Pendekatan Siwa adalah pendekatan dari perasaan, dari hati. Perasaannya yang harus diubah. Cinta harus ditransformasikan/diubah sehingga ia menjadi doa. Di jalan Siwa, pemuja dan dewanya tetap ada, bhakta dan bhagwan tetap ada. Pada puncak terakhir mereka berdua melebur satu sama lain.

Dengarkanlah ini baik-baik: ketika Tantra Siwa mencapai orgasme puncaknya, aku melebur ke dalam dirimu, dan engkau melebur ke dalam aku – mereka berdua bersama, mereka menjadi satu kesatuan.

Ketika Tantra Saraha mencapai puncaknya, pengakuannya adalah: entah engkau benar, entah engkau sejati, entah engkau ada, maupun aku – keduanya menghilang. Ada dua pertemuan nol – bukan aku dan engkau, tidak ada aku maupun engkau. Dua nol, dua ruang kosong saling melarutkan; karena seluruh upaya di jalur Saraha adalah bagaimana untuk menghilangkan pemikiran, dan aku dan engkau adalah bagian dari pemikiran. Ketika pemikiran benar-benar larut, bagaimana engkau bisa menyebut dirimu sendiri sebagai aku? Dan siapa yang akan engkau sebut Tuhanmu? Tuhan adalah bagian dari pikiran, itu adalah ciptaan pikiran, konsep pemikiran, konsep pikiran. Jadi semua konsep pikiran larut dan shunya, kekosongan, muncul.

Di jalan Siwa, engkau tidak lagi mencintai bentuknya, engkau tidak lagi mencintai orang itu – engkau mulai mencintai seluruh semesta. Seluruh semesta menjadi milikmu; engkau diarahkan ke seluruh semesta. Rasa posesif dijatuhkan, kecemburuan dijatuhkan, kebencian dijatuhkan – semua yang negatif dalam perasaan dijatuhkan, dan perasaan itu menjadi semakin lama semakin murni. Satu saat datang ketika ada cinta murni di sana. Di saat cinta murni itu, engkau larut ke dalam objek dan objek larut ke dalam dirimu. Engkau juga menghilang, tetapi engkau menghilang bukan seperti dua nol, engkau menghilang saat yang dicintai menghilang ke dalam kekasih dan kekasih menghilang ke dalam yang dicintai.

Sampai di titik ini mereka berbeda, tetapi itu juga adalah perbedaan formal. Di luar ini, apa bedanya jika engkau menghilang seperti kekasih dan yang dikasihi atau engkau menghilang seperti dua nol? Titik dasar, titik yang mendasar, adalah bahwa engkau menghilang, bahwa tidak ada yang tersisa, bahwa tidak ada jejak yang tersisa. Penghilangannya itu adalah pencerahan.

Jadi, engkau harus memahaminya: jika cinta menarik bagimu, Siwa akan menarik bagimu, dan buku Vigyana Bhairava Tantra (Kitab rahasia) akan menjadi kitab suci Tantra milikmu. Jika meditasi menarik bagimu, maka Saraha akan menarik bagimu (Osho membahas tentang Saraha di buku Tantra Vision). Itu tergantung padamu. Keduanya benar, keduanya sedang menempuh perjalanan yang sama. Dengan siapa engkau ingin bepergian, itulah pilihanmu. Jika engkau bisa sendirian dan bahagia, maka Saraha; jika engkau tidak bisa bahagia ketika engkau sendirian, dan kebahagiaanmu datang hanya ketika engkau berhubungan, maka Siwa. Inilah perbedaan antara Tantra Hindu dan Tantra Buddha.

OSHO ~ The Tantra Vision, Vol 1, Chpt 2