Salah satu Sufi Master, Abul Hasam, mengatakan, ‘Sufisme pernah menjadi kenyataan tanpa nama dan sekarang Sufisme adalah nama tanpa kenyataan.’ Selama berabad-abad Sufisme ada tanpa nama. Sufisme hadir sebagai realitas. Itulah mengapa aku katakan Yesus adalah seorang sufi, begitu juga Muhammad. begitu juga Mahavir dan begitu juga Krishna. Siapapun yang telah menyadari Tuhan adalah seorang Sufi. Mengapa aku katakan demikian? Cobalah untuk memahami kata ‘Sufi’ dan hal itu akan menjadi jelas untukmu.

Kata ‘Sufi’ adalah temuan baru, temuan dari Orang Jerman, dari sarjana Jerman. Tidak lebih dari seribu lima puluh tahun yang lalu. Dalam bahasa Arab kata itu disebut tasawwuf. Tapi keduanya berasal dari akar ‘suf’ yang berarti wol.

Mungkin terlihat aneh. Mengapa wol harus menjadi simbol dari Sufisme? Sarjana itu mengatakan bahwa itu adalah karena Kaum sufi selalu memakai jubah wol. Itu benar. Tapi kenapa? Tidak ada yang dapat menjawabnya. Kenapa mereka harus mengenakan jubah wol?

Ada simbolisme yang mendalam di dalamnya. Simbolisme berarti bahwa wol adalah pakaian hewan dan seorang sufi harus menjadi murni seperti hewan. Seorang Sufi harus mencapai kemurnian primal. Dia harus meninggalkan semua jenis peradaban, dia harus meningglkan semua jenis budaya, dia harus meninggalkan semua pengkondisian, dia harus menjadi hewan lagi. Itulah mengapa simbol itu menjadi sangat signifikan.

Ketika seorang Manusia menjadi hewan ia tidak menjadi terbelakang, dia menjadi lebih tinggi. Ketika seorang Manusia menjadi hewan, Manusia itu bukan hanya menjadi hewan. Hal Itu tidak mungkin. Engkau tidak dapat menjadi terbelakang. Ketika seorang Manusia menjadi hewan ia menjadi orang suci. Dia tetap sadar tapi kesadarannya tidak lebih terbebani oleh pengkondisian. Dia tidak menjadi Hindu dan tidak lagi menjadi seorang Muslim dan tidak lagi menjadi seorang Kristen. Dia selaras dengan semesta sedalam seperti hewan. Dia telah meninggalkan semua jenis filosofi, ia tidak membawa konsep apapun dalam pemikirannya, pemikirannya tidak dipenuhi muatan apapun. Dia tetap orang yang sama, tapi dia tidak lagi di dalam pemikiran. Hidup tanpa pemikiran – itulah arti dari jubah wol. Untuk menjadi seperti hewan yang murni, tidak untuk mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk… dan kemudian hikmat tertinggi muncul, ‘summum bonum’.

Ketika engkau tahu apa yang baik dan yang buruk, dan engkau memilih yang baik daripada yang buruk, engkau menjadi terbelah. Bila engkau memilih, maka ada represi. Ketika engkau mengatakan ‘Aku akan melakukan ini. Ini harus dilakukan. Ini sebaiknya dilakukan’, ini menjadi ‘kewajiban’. Maka secara alami engkau harus mengekang – engkau harus mengekang yang mana engkau telah anggap sebagai yang buruk. Dan bagian yang dikekang tetap dalam dirimu dan terus meracuni sistemmu. Dan cepat atau lambat bagian itu akan menegaskan dirinya,cepat atau lambat bagian itu akan membalas dendam. Ketika sudah tidak terbendung lagi, engkau akan gila.

Oleh karena itu semua orang yang modern selalu di ambang kegilaan. Bumi ini adalah rumah sakit jiwa besar. Beberapa telah menjadi gila, beberapa telah berpotensi. Perbedaan antara engkau dan orang gila bukanlah tentang kualitas, tapi hanya kuantitas, hanya derajat. Mungkin mereka telah melampaui seratus derajat dan engkau hanya berada di sekitarannya – di sembilan puluh delapan, sembilan puluh sembilan – tetapi setiap saat situasi apapun dapat mendorongmu melampaui batas. Apakah engkau tidak melihatnya? tidak bisakah engkau amati pikiranmu? tidak bisakah engkau lihat kegilaan yang berlangsung terus menerus di dalam? Hal itu terus menerus ada. Engkau menghindarinya; engkau menyibukkan diri dalam seribu satu hal hanya untuk menghindarinya. Engaku tidak ingin melihat hal itu, engkau ingin melupakan tentang hal itu. Hal itu terlalu menakutkan, mengerikan. Tapi itu ada – dan apakah engkau menghindar atau tidak tapi hal itu tumbuh. Hal itu terus mengumpulkan momentumnya. Hal itu dapat berada di puncaknya setiap saat. Setiap hal kecil bisa menjadi pemicu. Bila engkau memilih, engkau harus mengekang.

Hewan tidak memilih. Apa pun yang terjadi, terjadilah. hewan hanya menerimanya; penerimaannya adalah total. Ia tahu tidak ada pilihan.

Begitu juga seorang Sufi. Seorang sufi tidak mengenal pilihan. Dia secara sadar tak memilih. Apapun yang terjadi ia menerima sebagai hadiah, sebagai hal yang diberikan Tuhan. Siapa dia sehingga dapat memilih dia tidak percaya akan pemikirannya, ia percaya di pemikiran yang universal. Itu sebabnya ketika engkau bertemu Sufi engkau akan melihat kepolosan seperti hewan di matanya, di keberadaannya; benar – benar bebas, benar-benar sukacita, karena hanya hewan tahu – atau pohon atau batu atau bintang.

Idries Shah telah mengutuk definisi ‘sufi’ dari kata ‘suf’ – wol – persis alasan yang sama sebagaimana aku menyetujui. Dia mengatakan bahwa Sufi begitu mengerti tentang simbol bagaimana mereka dapat memilih wol sebagai simbol? wol merupakan hewan dan Idries Shah mengatakan Sufi tidak bisa memilih hewan sebagai simbol. Mereka adalah umat Tuhan – mengapa mereka harus memilih hewan? Dia tampaknya sangat logis, dan alasannya mungkin memiliki daya tarik bagi banyak orang.

Tapi persis dengan alasan yang sama aku menyetujui definisi itu. Bagiku, menjadi hewan artinya menjadi tidak bersalah, tidak mengenal moralitas, tidak mengenal amoralitas. Untuk menjadi hewan tidak ada penghakiman. Para Santo lebih seperti hewan daripada sepertimu, daripada seperti yang disebut manusia. Manusia adalah makhluk yang tidak alami, mereka sangat tidak wajar, buatan, plastik. Seluruh hidup mereka adalah hidup dalam penipuan. Jika engkau menyentuh wajah seseorang engkau tidak akan pernah menyentuh wajahnya, engkau hanya menyentuh topengnya. Dan ingatlah, tanganmu juga tidak nyata. tanganmu dilapisi sarung tangan. Bahkan sepasang kekasih tidak menyentuh satu sama lain; bahkan ketika bercinta engkau tidak murni; bahkan cintamu tidak tanpa topeng. Tapi bila engkau ingin mengasihi Tuhan engkau harus tanpa topeng. Engkau harus meninggalkan semua tipu muslihat. Engkau harus otentik seburuk apapun engkau menjadi tak pemilih sebenar apapun engkau. Dalam kemurniah yang primal Tuhan datang.

OSHO-Sufis: The People of the Path, Vol 1
Bab 1